JANGAN DATANG LAGI
Malam segera tiba. Di suatu Desa terpencil, Desa Gako
terdengar suara hati seorang perempuan bernama Mawar yang jatuh kepada seorang pria bernama
Whiskey.
Mereka merupakan dua anak mudah usianya yang masih
produktif. Sih Mawar adalah orang pribumi asli yang menetap di sana.
Sedangkan sih Whiskey adalah seorang pendatang di desa
tersebut. Whiskey berasal dari kota. Ia baru sebulan di Desa itu.
Menariknya adalah mereka tak saling mengenal satu sama
lain. Lantas pertemuan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dalam
suasana yang berbeda, tentu kejadian malam itu meninggalkan sesuatu yang
berkesan.
***
Setiap pagi Mawar selalu menyiapkan segala persiapan alat,
alat yang bisa mawar menggunakan di kebun. Mawar pun tak lelah menjalani
kehidupan walaupun ia sendiri dalam satu atap. Hal ini, mawar menerima
kenyataan tersebut karena kedua orang tuanya meninggalkan mawar sejak mawar
berumur 15 tahun.
Di usia seperti mawar, ia sangat merasakan kehilangan
kesempatan dan kebahagiaan kasih sayang dari orang tuanya. Bahkan sangat amat
mendalam Ia merasa kesedihan atas kehilangan orang-orang yang Ia sayangi.
Hari-hari hidup Mawar tanpa orang tua tentu berbeda
dengan teman-teman seusianya yang lain. Ia menjalani hidup dan menatap masa
depan tanpa pegangan dan tongkat. Sebutir nasehat tentang kehidupan juga sangat
sunyi. Ia adalah seorang perempuan yang dibesarkan oleh kesunyian.
Setelah kejadian kedua orang tuanya, Mawar pun menjalani kehidupan dan menerima kenyataan yang telah terjadi dalam keluarganya.Mawar tentunya tidak terima kenyataan itu karena pada dasarnya anak seusia Mawar sangat membutuhkan kebahagiaan kasih sayang dari kedua orang tua.
***
Di sebuah atap rumah kaca terdengar suara yang sangat
kasar dan besar.disana ternyata terjadi permasalahan rumah tangga di antara
ayah dan ibu Mawar. Permasalahan tersebut berakibat dari pemenuhan ekonomi
dalam keluarga mereka.
Permasalahan rumah tangga mereka bukan hal baru. Sudah
berlangsung sejak lama. Bahkan sejak Mawar masih kecil.
Pada hari itu Mawar beranggapan biasa saja karena hal itu
sering terjadi dalam keluarga mereka bahkan ia menyaksikan langsung sejak kecil
ketika ayah dan ibunya bertengkar.
Namun, pada hari itu sangat berbeda. Setiap tembok pun
ikut bertengkar entah mengapa suasana keluarga Mawar terjadi tidak seperti
biasanya.
Mawar berlutut dan berdoa kepada Tuhan untuk tidak
terjadi apa-apa di dalam keluarga mereka.
Ia sangat cemas akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Jawaban dari doa sih perempuan tulus ini pun tak kunjung
datang. Ia terlambat. Anak seusia Mawar saat itu hanya bisa tangis dalam diam,
menyaksikan apa pun terjadi, dan berharap doa akan memberikan pertolongan:
setidaknya sesuatu terjadi untuk menengahi pertengkaran kedua orang tuanya.
Persoalan tersebut berakhir dengan suatu perceraian.
Setelah ibunya mengeluarkan pernyataan perceraian.
Dua hari kemudian akibat keras kepala ibu Mawar hari
itupun Ayah dan ibu Mawar terjadi perceraian.
Tak lama setelah itu ayah Mawar jatuh sakit akibat
serangan jantung.
Kondisi ini menambah deretan kecemasan bagi Mawar. Pasti
Ia cemas. Anak perempuan itu sangat prihatin. setiap hari mawar di hantui
dengan kesediaan dalam hatinya.
Kondisi tubuh
ayahnya tak dapat bertahan lama. Rumah sakit umum hanya ada di kota. Desa hanya
punya pos kesehatan masyarakat dengan peralatan yang kurang dan tenaga medis
yang sangat minim. Sakit serangan jantung semacam itu tak dapat ditangani oleh
pos kesehatan yang kapasitas kerjanya serba terbatas.
Hanya Ayah dan
Ibu yang Ia miliki. Sejak perceraian itu harapan pertolongan semakin tipis.
Mawar tak dapat melakukan banyak hal. Apa lagi mengurus Ayahnya ke rumah sakit
di perkotaan yang jaraknya sangat jauh dan tentu memakan biaya yang besar, dan
membutuhkan tenaga lebih banyak untuk mengurusi ayahnya.
Lantas Dua Minggu kemudian Ayah meninggal. Ia meninggalkan Mawar seorang diri di tepi desa
Gako dibawa atap rumah kaca. Rumah kaca itu pun menjadi tembok hitam yang penuh
kesedihan. Mawar tak bisa lagi bendung air matanya. Ia membiarkan mengalir
membasahi pipi hitam manis itu.
Kasihan! Sungguh Sedih.
***
Waktu pun berlalu. Lintasi jalan kehidupan dengan apa
adanya. Hari-hari Mawar pun telah lalui dengan sendirian. Apa boleh buat!
Kenyataan ini Mawar mengikhlaskan dan Ia pun menjalani kehidupan baru dengan
memanfaatkan kebun, Sawa peninggalan orang tuanya.
Merasa bosan dan capek, merasa sendirian, semua perasaan
ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Apalagi Ia tak menemukan sosok wajah
ayahnya di setiap berkebun dan bersawah. Tentu itu menyiksa batin. Apa lagi
anak perempuan (hal ini tidak bermaksud menempatkan/memojokan posisi perempuan.
Konteks ini lebih merujuk kepada suasana batin yang setiap anak-anak alami, ala
lagi anak perempuan).
Tetapi Mawar menikmati hidupnya. Belajar untuk tetap
kuat, terlihat bahagia, tersenyum, hanya untuk menyembunyikan rasa kehilangan
yang mendalam. Hanya doa menjadi tempat curhatnya di tengah sunyi yang ramai di
hari-hari hidup.
Suatu sore senja belum pamit pulang. Datanglah seorang
pria membawa rempah bunga menepih di bibir Sawah bersemak pagi itu. Pria kulit
putih, berambut panjang itu datang mendekat dengan penuh tebar senyum di
pipinya. Semakin dekat, Ia semakin tersenyum gila. Mawar makin salah tingka.
Makin dekat, detak jantungnya mulai tak beraturan.
“Hai, Mawar.”
“Hallo.”
“Apa kabar?”
“Aku baik. kamu?”
“Aku juga baik.”
“Boleh aku duduk di sini, Mawar?”
“Oh, silahkan.”
Sore itu hari yang berbeda menurut Mawar. Sejak
kehilangan Ibu dan Ayahnya sunyi dan sepi adalah teman baik Mawar. Kini satu
lagi, teman baru. Siapa yang mengutusnya? Apakah itu jawaban dari doa-doanya?
Entah lah. Mawar hanya bisa menyaksikan terbenamnya
matahari sore itu di samping pria pendatang itu.
Dia merupakan seorang pria bernama Whiskey. Tatapan dari
jauh mematikan suasana hati Mawar walaupun tatapan pertama dalam hidup. Hal itu
Mawar tidak merasa cinta apa apa atau rasa ada semacam perasaan dalam lubuk
hati yang dalam.
Tetapi sosok pria seperti Whiskey dengan hati yang
lembut, mampu mengobarkan semangat kepada mawar bahwa ingin berkelana di tepian
kesunyian yang mampu memberikan petunjuk bagaikan pelita di malam hari.
Tak lama lagi, tatapan senja sore whiskey menyatukan rasa
cinta antara satu sama lain pada pertemuan pinggiran Sawa itu. Sampai mereka
saling jatuh cinta.
Percintaan mereka membawa mereka seakan hidup dan Sawah
di sekitarnya miliki mereka dua.
Sampai pada titik ini, Mawar masih dihantui oleh sejuta
pertanyaan tentang kemunculan Whiskey. Siapa dia? Siapa yang mengutusnya?
Jangan-jangan Ia datang untuk pergi meninggalkannya? Mengulangi nasib yang sama
seperti ayah dan ibunya.
Ahk, Mungkin Whiskey datang untuk merubah nasib ini. Ia
meneteskan air mata tanpa bicara, tanpa diketahui Whisky. Ia mendekatkan diri
ke samping tubuhnya, mawar sandarkan kepalanya di bahu pria asal kota itu, dan
mendengarkan setiap perkataan, dengan penuh sayang, hingga mata hari terbenam.
***
Pagi hari itu Whiskey terbangun dari pelukan Mawar. Ia
terbangun dan segera panaskan air dan meracik segelas kopi di dapur. Kopi P5,
minuman kesukaannya.
Ia menikmati kopi sambil duduk di ruang tengah sambil
menikmati indahnya sawa dibawa cahaya fajar pagi. Sejumlah foto keluarga Mawar
terpanjang di dinding rumah.
buku catatan harian Mawar masih tersimpan diatas meja
belajar. Ia menuliskan semua suka-duka dan harapan tentang kehidupan dan masa
depan.
“Dring, Dring, dring, Driiiiing”
Gawai Whiskey berdering.
Ada sebuah pesan teks muncul di layar gawainya. Tak
menunggu lama Whiskey buka dan baca.
“Whiskey kamu harus pulang kerumah karena Lusa kamu akan
melamar pekerjaan." pesan teks dari orang tua melalui WhatsApp.
Ternyata sih Whiskey adalah seorang anak kuliah yang baru
selesai dari Jakarta dan dia ke desa terpencil ini ia hanya mau menghabis waktu
nya untuk liburan sambil menunggu pekerjaannya diterima sesuai apa yang dia
impikan selama ini.
Mawar masih tidur pulas akibat semalam tidur larut malam.
Pesan teks berikutnya tiket kode booking kereta. Orang
tuanya sudah memesan tiket lalu Whiskey tinggal berangkat pukul 8 pagi.
Kini pukul 8 kurang. Whiskey pun bergegas menuju terminal
pada pagi itu tanpa pamit kepada Mawar.
Whiskey sudah tak ada di pelukannya saat bangun pagi.
Mawar menyadari bahwa Whiskey sudah tak ada di rumah
setelah mengeceknya di sekitar rumah.
***
*Penulis adalah
Mahasiswa Papua kuliah di kota Purwokerto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar