Refleksi 7 tahun :
“Paniai berdarah” 8 Desember 2014 – 8 Desember 2021
8 Desember "Paniai berdarah" pada tahun 2014 ini mengingat saya harus berpikir kembali aktivitas saya pada waktu itu di desa Ipakiye. desa yang terletak di Tengah ibu kota Enarotali dan Madi Kab Paniai Paniai . Desa ipakiye ini masyarakat menyebut ” tanah merah” karena di desa ini mempunyai potensi pasir putih,merah dan Kolar. bahkan tempat pengambil material untuk pembangunan seperti kantor pemerintah Bahkan rumah keluarga sebagainya
Pada waktu itu saya masih berada di bangku sekolah pendidikan pertama "SMP" kelas 2 di SMP YPPGI Paniai. Jarak dari desa ipakiye ke sekolah ( Enarotali ) memanglah sangat jauh mungkin sudah tau bagi orang yang pernah mengunjungi di Paniai, terpaksa saya harus menempu jalan kaki naik turun gunung hanya karena pendidikan pada waktu itu. Di ipakiye saya juga numpang tinggal bersama "Hamba Tuhan" bapa Pdt .Sem Pigai dan Ibu elena Degei.di Rumah pastori Bethesda dari Gereja Kemah Injil Kingmi Papua ( GKIP )
Hubungan keluarga saya dan mereka , ibu gembala Helena Degei adalah Adik perempuan dari ibu kandung saya Agustina Degei dari keturunan "MAUWABI DEGEI dan MIGONA DEGEI" sedangkan Bapa Pdt Sem Pigai adalah orang asli di desa ipakiye namun beliau menetapkan hidup nya untuk melayani jemaat " mengarah pada pekerjaan Tuhan sebagai seorang hamba Tuhan" . Saya masih ingat mereka mempunyai anak lebih dari 12 anak dari kelahiran yang berturut-turut karena berkat Tuhan terhadap keturunan manusia dan marga untuk generasi bangsa dan rakyat Papua terkhusus pada marga Pigai dan suku Mee
Disini saya ingin memfilsafati atau mengingat kembali berdasar pengalaman saya .sesuai fakta dan mengungkapkan salah satu kebenaran dari sekian tulisan gambaran yang menggambarkan melalui investigasi, Wawancara, melalui penegak hukum dan hak serta melalui lemabaga LSM dan agama atau seluruh pembela kebenaran sampai pada pro demokrasi Nasional terkait 8 Desember 2014 Paniai berdarah . Melalui Tulisan ini saya ingin merefleksikan kembali 8 Desember Paniai berdarah 2014. Tulisan ini berdasarkan fakta di ipakiye di desa yang sama awal mula bentuk reaksi -aksi militer Indonesia.
Kehidupan anak mudah di ipakiye bercorak pada pengumpulan pasir dan koral .karena di daerah ini memiliki potensi seperti terungkap diatas secara letak wilayah yang penuh kepasiran. Aktivitas pemudah ipakiye mereka jual pasir untuk menghidupi keluarga bahkan untuk mereka sendiri. Pendapatan yang mereka terima dari satu pikap 300 ribuh 1 kali muatan dan 1 truk satu angkutan dengan berisi pasir penuh dengan harga 1.500.Tetapi pendapatan ini tergantung sesuai kebutuhan bangunan yang mereka butuhkan para pembeli pasir sesuai kebutuhan bangunan mereka.
Mengingat jarak dari ipakiye ke Enarotali setiap hari naik turun jalan kaki ke sekolah pada tahun 2013 saat itu saya awal masuk SMP di sekolah YPPGi Enarotali.oleh karena itu saya di ajak oleh saudara saudara anak asli (pribumi) kampung ipakiye mereka adalah Yulianus you, YULIKIAN Pigai, Delianus Gobai,Yuli Yeimo,abimelek Pigai dan kawan kawan lainnya untuk melakukan pekerjaan angkat pasir atau Jual pasir di sekitar nya. agar memudahkan saya dalam transportasi ke sekolah dan saya juga merasa senang dengan menjual pasir karena hasil penjualan pasir ini memudahkan saya dalam segala kebutuhan sekolah. Setiap hari setelah pulang sekolah aktivitas saya waktu itu jual pasir dan naik gunung pegapi untuk angkat kayu di sebelah gunung pegapi orang disana mereka menyebut bahwa ( Enago Dide ) tempat pengambilan kayu bakar guna untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar di rumah
Reaksi -aksi militer waktu itu mulai terjadi pada malam Jumat tepat pada tanggal 5 Desember 2014 kisaran 11 malam, sebelum "penembakan 8 Desember Paniai berdarah" itu terjadi pada hari Senin pagi kisaran jam 9- 11 pagi. Keberadaan saya pada saat itu di posko natal " pondok Natal" yang kami bangun di samping jalan raya
tempatnya persis dengan jln. Raya Enarotali Madi samping jalan kiri jika dari Enarotali ke madi sedangkan jika dari arah madi ke Enarotali berarti sebela jalan kanan samping jalan masuk perumahan rumah bupati bapa Natalius Yogi mantan bupati kabupaten Paniai yang pernah perumahan tersebut terbakar
malam Jumat itu reaksi-aksi mobil Avanza putih mulai keliaran tanpa menggunakan lampu. Pada saat ini kebetulan kami berada dalam posko natal sambil minum kopi sambil cerita. Malam itu tidak semua anak tinggal disitu tetapi kami ada 4 anak saja yang masih berada di dalam kita ini adalah Yulianus you, Delianus goba,Viktor Yeimo dan saya Yusak Nawipa sendiri pada saat itu kami sambil main gaple
Pada saat itu pula mobil yang mencurigakan begitu lewat dengan kecepatan yang laju dari arah Madi ke Enarotali tanpa menyalahkan lampu sen. Kami berpikir bahwa jangan jangan mereka minum dari situ kami juga panik karena dari madi ke enaro jalannya bagus namun penuh dengan jurang naik turun gunung memungkinkan mereka bisa jatuh atau terjatuh di jurang jika mereka minum ,minuman Beralkohol
Tetapi tidak lama kemudian mobil yang tadi lewat dari arah madi ke enaro itu muncul di etenedimi dari arah Enarotali ke Arah Madi mobil tersebut ia tidak menggunakan lampu sen pada saat itu pula waktu itu saya bersama Yulianus you kami turun dari posko dan melihat sekaligus memberhentikan mobil tersebut tujuan kami untuk mengarahkan sopir itu untuk menyalahkan lampu mobil
Namun di dalam mobil itu terisi 4 orang di belakang kursi dan di depan 2 orang sekalian dengan sopir yang nyitir keadaan mereka tidak ada yang minum, minuman beralkhol mereka adalah anggota bersenja lengkap dengan menggunakan baju biasa di dalam mobil. Malam itu setelah kami mengarahkan untuk menyalahkan lampu demi kenyamanan nyawa mereka. malam itupun , kami di todon dengan senjata dan mengucapkan kalimat dengan " ko jangan macam macam kita anggota " ucapk anggota itu
Pada hari Sabtu pada tanggal 6 aktivitas kami berjalan seperti bisa seperti angkat pasir pagi sampai sore sekaligus memutar lagu Natal di posko . Pada sore harinya terjadi pula seperti kejadian malam jumat.dengan mobil mencurigakan datang dari arah Enarotali ke madi membuat teman" harus memberhentikan mobil tersebut supaya menjaga kenyamanan nyawa mereka dan kenyamanan lingkungan apa lagi daerah gunung yang penuh bebatuan dan penuh jurang
Tetapi respon mereka langsung malam Sabtu itu pun mengeluarkan peluru dan 2 kawan saya tertembak di kaki pada malam itu pun di . Akibat dari tindakan brutal rombongan mobil pada malam Sabtu itu membuat warga desa ipakiye dan anak anak mudah ipakiye ingin menuntut keadilan di Kapolres resor Paniai di samping Lapangan Karel Gobai seacara damai dan adil namun aksi kemanusiaan mencari keadilan itu malah di balas dengan tindakan kepolisian- militer ini membuat hujan peluru di atas tanah sendiri dari arah bandara Paniai mengakibat 4 orang pelajar berkorban tak bernyawa dan kini kita sebut Paniai berdarah 8 Desember 2014 - 8 Desember 2021
Catatan ini saya tulis sesuai fakta dan saya tidak mengutip dari pembicaraan orang tetapi apa yang mereka lakukan waktu itu sejak malam Jumat - Minggu hingga ,8 Desember 2014. Keberadaan saya pada saat itu berada di sana. Hanya saja, saya tidak tergabung pada aksi tuntutan keadilan di depan Polsek Paniai Enarotali di samping Lapangan Karel Gobai dan saya tidak berada disana.tetapi awal mula reaksi -aksi mereka mulai dari juma't 5 Desember 2014
Oleh : Yusak Nawipa
Purwokerto, Rabu 8 Desember 2021






